MEROKOK ITU SEHAT

Banyak, buanyak sekali perokok yang terus merokok sampai tua, dan tetap SEHAT. Subhanallah...

HARUS KHUSYUK

Merokok itu tak boleh grusa-grusu. Harus khusyuk. Bukan kayak speedboad yang barrr brrr, melainkan kayak kapal selam, tenang tapi penuh perhitungan dan pemikiran.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Senin, 07 September 2015

Subhanallah, Inilah Rahasia Kecerdasan Kaum Perokok

OLEH IQBAL AJI DARYONO // 30 JANUARY 2015TWEETSHARE
Suatu siang, tiga tahun silam. Saya datang ke sekretariat IKAPI Yogyakarta, untuk kumpulan rutin setiap Rabu. Sampai di sana, tumben-tumben saya lihat ada Mas Indra Ismawan, bos grup penerbit Media Pressindo.

“Halo Mas, lama nggak ketemu, kok tambah gemuk aja? Hehehe,” sapa saya. Memang cukup lama saya nggak jumpa miliuner rendah hati yang satu itu. Dan pas kali itu ketemu, badannya beneran kelihatan subur.

“Iyo, memang gemuk nih. Soale habis berhenti merokok,” jawab Mas Indra.

Saya njenggelek. Waini, topik menarik ini. Saya langsung mupeng pingin dengar ceritanya. Maka saya pun menginterogasi Mas Indra.

“Aku setop merokok lumayan lama, tiga bulan. Berat badan langsung naik 10 kilo,” kisahnya. Saya mulai nggelar tikar dan ngaduk kopi, menyimak. Segeralah terbangun hipotesis di kepala: berhenti merokok itu benar-benar menyehatkan.

“Tapi,” Mas Indra melanjutkan, “akhirnya aku putuskan merokok lagi.”

“Lho!! Kok??” atas nama pencarian kebenaran, saya nggak boleh begitu saja setuju keputusan politik Si Bos.

“Begini, simpel saja,” jawabnya. “Kalau aku lanjutin setop merokoknya, pasti aku tambah gemuk. Sementara kita lihat, mana ada orang obesitas bertahan sampe tua? Kalau ketemu perokok berat hidup sampe 90 atau 100 tahun sih sering. Tapi lihat orang obesitas bertahan hidup sampe umur segitu? Pernah, ‘po?”

Saya tertegun. Paten nih orang. Cara berpikirnya jauh dari linier. Dia sama sekali tidak membaca persoalan secara serta-merta, lewat permukaan saja, semisal: “Hmm.. karena berhenti merokok aku jadi gemuk. Gemuk berarti sehat. Jadi kalau mau sehat, berhentilah merokok.” Tidak, tidak. Manusia di depan saya itu punya pikiran yang melompat jauh ke luar kotak. Untung sampeyan nggak fesbukan, Mas, batin saya. Coba main fesbuk, pasti sudah dibuli sama kimcil-kimcil. Hahaha.

***

Suatu malam saya sowan ke Dipowinatan, kediaman penyair gaek Iman Budhi Santosa. Sambil mengisap 76-nya, beliau menelanjangi makna slamet dalam masyarakat Jawa. Kata Mas Iman, slamet dalam kosmologi Jawa berbeda jauh dengan selamat dalam pemahaman standar perspektif dunia modern.

“Dalam pemikiran modern, yang disebut keselamatan melulu terkait fisik. Orang naik kendaraan dan sampai tujuan tanpa terkena kecelakaan, berarti selamat. Orang yang fisiknya terlindungi, aman dan nyaman, disebut selamat. Sebaliknya, orang yang terkena gangguan fisik, atau bahkan mati, otomatis dikatakan tidak selamat. Cuma begitu itu. Jadi orang tidak paham dengan kematian Mbah Marijan yang mengawal Gunung Merapi, misalnya. Apa benar Mbah Marijan tidak selamat? Dalam kacamata orang Jawa, Mbah Marijan itu slamet. Slamet. Orang gagal mengerti, karena apa yang ada dalam sudut pandang mereka tak lebih dari perkara jasmani belaka.”

Mas Iman melanjutkan dengan konsep kesehatan modern. “Urusan Departemen Kesehatan itu kan cuma kesehatan jasmani saja to,” sambungnya. “Mana pernah mereka menempatkan sektor kesehatan jiwa dalam proporsi penting? Padahal persoalan masyarakat kita kebanyakan akibat problem ketidaksehatan jiwa. Penyakit fisik memang ada. Tapi sebenarnya jauh lebih banyak penyakit jiwa. Anehnya, segi ini nyaris dianggap tidak ada oleh Departemen Kesehatan. Jadi ya nggak heran, ketika para ahli kesehatan menilai masalah rokok, yang dibahas cuma sudut pandang kesehatan fisik..”

***

Mengenang obrolan bersama Mas Indra Ismawan dan Mas Iman Budhi Santosa, saya jadi merenung-renungkan lagi arti “out of the box”. Tak bisa disangkal, poin-poin pikiran kedua orang perokok berat itu jauh dari standar. Ada batas-batas pagar yang mereka lompati, di saat semua orang nyaman-damai dan tak berani membayangkan apa-apa yang ada nun di luar pagar. Saya jadi ingat dialog lama yang terjadi antara Syekh Abu Hayyun dan seorang mbak-mbak unyu aktipis antitembakau.

“Iya, rokok memang berbahaya. Saya setuju sekali sama sampeyan, Mbak,” kata Syekh Abu Hayyun mantap. Wajah aktipis LSM antitembakau yang bertamu siang itu pun langsung berbinar.

“Begini,” lanjut Syekh. “Merokok itu nggak bisa dilakukan sambil terburu-buru. Anda bisa makan, minum, mandi, bepergian, bahkan bekerja, dengan cepat dan tergesa. Tapi tidak untuk merokok. Merokok mesti dilakukan seperti.. mm.. gerakan-gerakan salat. Harus tuma’ninah istilahnya, Mbak. Sedot, tenang, pengendapan sesaat, baru nyebul. Isep lagi, tenang dan pengendapan lagi, sebul lagi. Begitu terus-menerus. Lihat, ngudud sama sekali bukan aktivitas yang cocok untuk orang yang gegabah dan grusa-grusu…”

“Lho, maaf, katanya bahaya, Syekh? Kok malah nggak bahas bahayanya?” Si aktipis kimcil tampak nggak sabar.

“Sebentar..,” sambil tersenyum bijak Syekh memberi kode tangan, agar si aktipis diam dulu. “Untuk menghabiskan satu batang rokok, rata-rata dibutuhkan 20-25 kali hisapan. Kalau seorang perokok ngudud 10 batang saja setiap hari, artinya minimal ada 200 kali saat jeda tuma’ninah per harinya. Dua ratus kali setiap hari, Mbak! Nah, bayangkan saja jika ia menempuh hidup seperti itu belasan atau bahkan puluhan tahun. Apakah sampeyan yakin yang demikian itu tidak turut membentuk bangunan bawah sadar dan karakter pribadinya?”

“Bahayanya, Syekh. Pliss, bahayanya…”

“Jadi, ya nggak usah gampang heran kalau banyak pemikir muncul dari kalangan perokok. Sebab perokok itu bukan semacam speedboat yang melesat cepat di permukaan, melainkan lebih dekat dengan sifat kapal selam. Ia bergerak pelan namun pasti di kedalaman. Makhluk-makhluk kapal selam itu terbiasa tenang, jernih mencermati setiap hal, sekaligus punya daya imajinasi tinggi. Maka kita tahu ada Einstein, misalnya. Pastilah ia menemukan Teori Relativitas, serta teori bahwa semesta berbentuk melengkung, saat ia leyeh-leyeh sambil kebal-kebul dengan pipa cangklongnya. Ada juga Sartre, Albert Camus, Derrida, Sigmund Freud, yang semua-muanya menempa ngelmu tuma’ninah-nya lewat asap tembakau. Contoh lain? Ada Sukarno, Che Guevara, Winston Churcill, hingga John Kennedy. Atau para sastrawan-pemikir, mulai Rudyard Kipling, Hemingway, Mark Twain, Pablo Neruda, Chairil Anwar, Pramoedya Ananta Toer, yang kesemua mereka pun menjalani metode yang sama. Jadi bisa kita simpulkan bahwa..”

“Stop! Stop!! Please, Syekh. Please! I said: ba-ha-ya! Please explain the ba-ha-ya!!”

“Hehe, iya, iya, Mbak. Maaf. Saya tegaskan bahwa rokok memang berbahaya.” Syekh ber-tuma’ninah sesaat. “Sebab.. yang paling berbahaya dari seorang manusia bukanlah paru-paru atau jantungnya, melainkan pikiran-pikirannya.”

Jeng jeng jeeeng!


http://mojok.co/2015/01/subhanallah-inilah-rahasia-kecerdasan-kaum-perokok/

Kampanye Antirokok, Cermin Kegagalan Pendidikan Matematika

 OLEH IQBAL AJI DARYONO // 3 OCTOBER 2014TWEETSHARE
Dua pekan lalu kita ramai membincangkan kasus PR matematika seorang anak SD di Semarang. Terlepas dari perdebatan apakah sama atau beda antara 4 x 6 dan 6 x 4, yang jelas kita mafhum bahwa matematika merupakan monster bagi banyak anak sekolah di Indonesia.

Selain karena menghadirkan kerumitan hidup yang merampas indahnya masa kanak-kanak dan remaja, matematika hanya berhenti menjadi pajangan yang beku di kelas-kelas. Ia tidak bisa hadir dalam realitas keseharian. Imbasnya, matematika gagal menjadi lifeskill. Ia sekadar alat untuk mendapatkan nilai di buku rapot. Itu saja.

Ini saya kasih contoh yang paling asyik: tipuan angka pada kampanye antirokok.

Biar teman-teman yang antirokok nggak keburu ngamuk duluan, saya berpesan: tetaplah menjadi antirokok. Bumi harus terus berputar. Baik yang pro maupun antirokok sama-sama dibutuhkan semesta raya. Tapi di saat yang sama, mari berbareng melawan pembodohan dan penistaan atas nalar. Deal? *Salaman*

***

Sejak sekitar enam tahun silam, saya terus-menerus mendengar bahwa korban tewas akibat rokok telah, sedang, dan akan terus berjatuhan. Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), jumlah kematian itu dalam lingkup Indonesia sangat mengerikan: 427.000 orang per tahun. Data ini akurat dari WHO, dan telah saya baca puluhan kali dari berbagai sumber. Untuk keperluan tulisan pendek ini, saya memeriksa ulang, hingga data itu membawa saya masuk ke blog Bapak Tulus Abadi. Beliau adalah salah satu tokoh utama tobacco control di Indonesia.

Angka 427.000 tersebut memang sudah agak out of date, dirilis WHO pada tahun 2008. Namun dengan pengandaian sesuai asumsi gerakan antirokok sendiri bahwa prevalensi merokok di negeri ini semakin tinggi, otomatis mestinya angka itu sekarang terus membesar.

Melihat data 427.000 orang Indonesia mati per tahun karena rokok, apa yang pertama kali terlintas di kepala? Kemungkinan besar Anda menyebut nama Tuhan. “Ya Tuhan, terlaknat sekali barang satu itu! Benda pembunuh!!” Lantas Anda bertekad mengajak segenap orang tercinta untuk stop merokok, sembari mengkhotbahi mereka semua tentang angka 427.000 nan ajaib itu.

Adapun sebagian yang lain, mungkin lebih progresif. Mengelus dada, lalu bertekad bergabung dengan para ksatria antirokok di belakang Pak Tulus Abadi, Pak Kartono Mohamad, Pak Hakim Sorimuda Pohan, dan sebagainya.

Tapi, adakah yang mau berdiam sebentar, mengunyah baik-baik, mencoba memahami apa arti “per tahun 427.000 orang di Indonesia mati karena rokok”? Hampir semua di antara kita memilih tidak memahaminya dengan nalar. Penyebabnya simpel saja, yakni alam bawah sadar kita sudah kapok dengan angka-angka. Momok pelajaran matematika bukan hanya menciptakan trauma. Ia juga membentuk diri kita menjadi manusia-manusia pasrah, yang menerima begitu saja tiap kali mulut kita disumpal dengan timbunan angka.

Biar tidak ikut-ikutan pasrah, saya mencoba mengutak-utik kalkulator.

Menurut data Badan Pusat Statistik, jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2008 diperkirakan sebanyak 228.523.000 jiwa. Pahami dulu bahwa angka itu adalah konteks, di mana terletak kematian 427.000 manusia per tahun.

Dengan angka kematian per tahun 427.000 tersebut, artinya kita harus menghitung 228.523.000 dibagi 427.000. Ketemunya 535,18. Sebutlah 535. Nah, jika data WHO itu memang benar, maka artinya “pada setiap populasi 535 orang di Indonesia, terjadi 1 kematian per tahun”. Betul, bukan? Silakan dicerna lagi.

Persoalannya, apakah data kematian manusia yang sangat bombastis itu cukup berhenti di berita website, atau di laporan-laporan akhir tahun kerja LSM untuk para penyandang dana? Tentu tidak. Kita (yang setiap saat menjadi sasaran tembakan informasi) bisa mengambil sikap cerdas dan kritis, bahkan bisa melakukan “verifikasi” dalam segenap keterbatasan.

Caranya amat sangat mudah. Lihat populasi terdekat Anda. Mulai anggota keluarga, tetangga sekampung, hingga teman-teman. Nah, saya yakin, jumlah lingkaran terdekat Anda tersebut cukup untuk membentuk populasi 535 orang. Pasti cukup. Jika tidak, misalnya Anda cuma berhasil menghitung 200 orang, misalnya, saya curiga dalam diri Anda ada problem psiko-sosial yang akut. Datanglah ke konsultan kepribadian terdekat di kota Anda.

Setelah terkumpul populasi lingkaran terdekat sejumlah kira-kira 535 orang, lihatlah umur Anda. Jika Anda berusia 20 tahun, misalnya, berarti semestinya Anda menyaksikan ada 20 orang di lingkungan Anda sendiri yang mati karena rokok. Logikanya, karena kematian itu terjadi 1 orang per tahun di tiap populasi 535 orang. Benar, bukan?

Mmm, oke. Itu agak sulit ya. Anda mengalami masa kecil hingga umur 10, sebutlah begitu. Hingga umur 10, Anda tak terlalu paham pada lingkungan sekitar. Baik, kalau memang demikian, dengan umur Anda yang 20 tahun, minimal Anda melihat kematian akibat rokok sebanyak 10 kematian! Bagaimana?

Mari kita bikin rumus toleransi saja. Ini semacam diskon 50%, karena kebaikan hati saya. Jika umur Anda 30 tahun, maka minimal Anda melihat kasus kematian karena rokok sebanyak 15 kasus. Jika umur Anda 40 tahun, minimal kasus kematian akibat rokok Anda lihat sebanyak 20 kasus. Dan seterusnya.

Nah, bagaimana? Betulkah demikian? Betulkah sebanyak itu kasus kematian akibat rokok Anda saksikan selama hidup Anda?

Rumus ini berlaku untuk setiap orang di Indonesia. Sebab, dengan pembagian 427.000 atas jumlah penduduk total 228.523.000 jiwa, otomatis setiap orang (termasuk Anda) akan menjadi bagian dari kelompok populasi terdekat yang berjumlah 535 orang itu tadi.

Maka, kepada siapa pun yang membaca sentilan ini, saya persilakan menghitung, ada berapa kematian akibat rokok di lingkungan terdekat Anda yang Anda ketahui sendiri. Jika ternyata memang benar jumlahnya sesuai rumus di atas, ah, saya sungguh ingin berjumpa dengan Anda. Tapi jika ternyata hasilnya jauh di bawah rumus, atau bahkan sama sekali kematian itu tidak pernah Anda temui di lingkungan terdekat Anda, maka saya ingin mengucap selamat.

Selamat, sebab selama ini Anda telah dibodohi oleh mereka. Hahaha.


http://mojok.co/2014/10/kampanye-antirokok-cermin-kegagalan-pendidikan-matematika/